puisi tentang lingkungan sekolah
Puisi Tentang Lingkungan Sekolah: Merawat Hati, Menjaga Bumi di Rumah Kedua
Sekolah, bukan sekadar bangunan bata dan semen,
Namun panggung ilmu, tempat mimpi bertaburan.
Lingkungannya, cermin jiwa, pantulan budi pekerti,
Menuntut perhatian, sentuhan kasih, agar lestari.
I. Halaman Hijau, Jantung Sekolah Berdetak
Rumput hijau terhampar, permadani alam terbentang,
Di sana canda tawa beradu, semangat pagi membangkitkan.
Pohon-pohon rindang, pelindung dari terik mentari,
Menyediakan oksigen, bagi otak yang berjuang sehari-hari.
Namun, rumput sering terinjak, terlupakan siraman kasih,
Pohon-pohon terluka, ukiran nama tanpa peduli.
Sampah berserakan, bungkus jajanan tak bertuan,
Merusak keindahan, mencemari udara kehidupan.
Puisi pertama:
Rumput berbisik lirih,
“Jangan injak aku, sahabat kecil.
Aku menopangmu, saat kau berlari riang,
Siram aku, saat dahaga menghampiri.
Biarkan aku tumbuh, menyegarkan pandangan.“
Puisi kedua:
Pohon tua berdesah pelan,
“Dahulu aku kecil, kau rawat dengan sayang.
Kini aku besar, rindang kupersembahkan.
Jangan lukai aku, dengan ukiran tanpa makna,
Biarkan aku bernapas, untuk generasi mendatang.“
II. Kelas Bersih, Pikiran Jernih
Ruang kelas, wadah ilmu pengetahuan,
Tempat guru berbagi, siswa menyerap ajaran.
Dinding putih bersih, papan tulis yang terawat,
Menciptakan suasana kondusif, semangat belajar membara.
Namun, coretan di dinding, bekas tempelan yang mengganggu,
Debu menumpuk di sudut, sarang laba-laba bergelantungan.
Meja kursi berantakan, buku berserakan tak teratur,
Mengganggu konsentrasi, menghambat proses belajar.
Puisi ketiga:
Dinding berbisik pelan,
“Bersihkan debuku, bersihkan noda-nodaku.
Aku ingin bersih, memantulkan cahaya ilmu.
Biarkan aku menjadi latar belakang yang tenang,
Agar pikiranmu fokus, meraih cita-cita gemilang.“
Puisi keempat:
Meja kursi berteriak pelan,
“Rapikan kami, jangan biarkan kami berantakan.
Kami adalah tempatmu belajar, menopang impian.
Jaga kami baik-baik, agar nyaman digunakan,
Sehingga ilmunya mudah diserap, tanpa terputus.“
III. Kamar Mandi Sehat, Cermin Kebersihan Diri
Kamar mandi sekolah, cermin kebersihan diri,
Tempat membersihkan diri, menjaga kesehatan sehari-hari.
Air mengalir jernih, sabun tersedia selalu,
Menghindari kuman penyakit, menjaga tubuh tetap bugar.
Namun, air sering terbuang, keran bocor tak diperbaiki,
Sabun habis tak diganti, tisu berserakan di lantai.
Bau tak sedap menyengat, kotor dan menjijikkan,
Menjadi sarang penyakit, membahayakan kesehatan.
Puisi kelima:
Keran berbisik merdu,
“Hematlah airku, jangan biarkan aku menetes sia-sia.
Air adalah kehidupan, sumber daya yang berharga.
Tutup aku rapat-rapat, setelah selesai digunakan,
Agar generasi mendatang, tetap bisa merasakan nikmatnya.“
Puisi keenam:
Lantai berteriak lirih,
“Bersihkan aku, jangan biarkan aku kotor.
Aku adalah tempatmu berpijak, setiap hari.
Siram aku dengan air, sikat aku dengan sabun,
Agar aku bersih dan sehat, terhindar dari kuman.“
IV. Kantin Bersih, Makanan Sehat
Kantin sekolah, tempat mengisi perut yang lapar,
Menyediakan makanan sehat, bergizi seimbang.
Kebersihan terjaga, makanan ditata rapi,
Menarik selera makan, menyehatkan tubuh dan pikiran.
Namun, makanan sering tak sehat, mengandung bahan pengawet,
Kebersihan kurang terjaga, lalat beterbangan di mana-mana.
Sampah berserakan di meja, sisa makanan tak dibersihkan,
Memicu penyakit, membahayakan kesehatan.
Puisi ketujuh:
Makanan sehat berbisik riang,
“Pilihlah aku, aku bergizi dan menyehatkan.
Aku mengandung vitamin, mineral, dan serat.
Hindari makanan instan, yang penuh bahan pengawet,
Agar tubuhmu sehat, kuat, dan bersemangat.“
Puisi kedelapan:
Meja kantin berteriak pelan,
“Bersihkan aku, setelah selesai makan.
Jangan biarkan sampah berserakan di atasku.
Aku ingin bersih dan rapi, agar nyaman digunakan,
Supaya selera makanmu meningkat, dan perutmu kenyang.“
V. Perpustakaan Rapi, Sumber Inspirasi
Perpustakaan sekolah, gudang ilmu pengetahuan,
Tempat membaca buku, menambah wawasan.
Buku ditata rapi, ruangan tenang dan nyaman,
Menciptakan suasana belajar, penuh inspirasi.
Namun, buku sering hilang, atau rusak tak terawat,
Ruangan berdebu, kurang pencahayaan.
Suasana ramai, mengganggu konsentrasi membaca,
Menghambat proses belajar, mengurangi minat baca.
Puisi kesembilan:
Buku berbisik lirih,
“Jaga aku, jangan biarkan aku hancur.
Aku berisi ilmu pengetahuan, yang tak ternilai harganya.
Bacalah aku dengan seksama, pahami isiku dengan baik,
Agar wawasanmu bertambah, dan hidupmu lebih bermakna.“
Puisi kesepuluh:
Rak buku berteriak pelan,
“Susunlah aku dengan rapi, jangan biarkan aku berantakan.
Aku tempat buku-buku bersemayam, menyimpan ilmu pengetahuan.
Jaga kebersihanku, agar buku-buku tetap awet,
Supaya generasi mendatang, tetap bisa menikmati manfaatnya.“
Dengan menjaga lingkungan sekolah, kita merawat hati dan menjaga bumi. Sekolah yang bersih, sehat, dan nyaman, akan menciptakan generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan peduli terhadap lingkungan. Mari bersama-sama mewujudkan sekolah impian, sekolah yang menjadi rumah kedua bagi kita semua.

